Ruang alternatif yang mewadahi aktivitas seni & budaya kontemporer, berbasis di Makassar sejak tahun 2019. Dikelola secara swadaya oleh 5 kelompok dengan ketertarikan yang berbeda, yaitu; BONFIRE , NARA , RITUS, SWARA SLEBOR, dan MASIOPSI . SIKU menyediakan ruang untuk tumbuh kembang melalui pendekatan kolaboratif lintas disiplin dan fasilitas untuk berkegiatan bersama. Dalam prosesnya, SIKU mengeksplorasi teori dan praktik untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam membaca isu-isu dan situasi terkini dengan sumberdaya yang tersedia di sekitar. SIKU juga menjadi laboratorium multimedia berbasis riset, seni grafis dan street art juga terus berupaya relevan untuk pewacanaan ruang dan kota.

Pada mulanya, SIKU muncul sebagai ide atas urgensi kebutuhan ruang bersama sambil belajar perlahan mengelola ruang publik. Dalam perkembangannya, SIKU menjadi ruang alternatif yang menawarkan pola kolaborasi sebagai pijakan dasar dalam berbagai praktik, inisiasi program kegiatan dan aktivitas seni & budaya kontemporer di Makassar. Bentuk-bentuk kolaborasi dapat berupa nongkrong, pameran, lokakarya, bermain domino, presentasi karya, residensi seniman, diskusi dan kelas-kelas alternatif. Melalui kegiatan dan program bersama pula, SIKU melebarkan jangkauan pertemanan di berbagai kawasan di Indonesia untuk terus aktif, bersinergi dan berkontribusi dalam pengembangan seni & budaya secara luas.

TIM KELOLA

Adin


Adin Amiruddin Seniman lintas media, lahir dan bermukim di Makassar. Mengawali pengalaman melalui seni pertunjukan bersama Kala Teater, Adin kemudian kerap terlibat dalam beberapa proyek kesenian di medium yang beragam seperti film, audio-visual, pameran seni rupa, hingga festival street-art. Di tahun 2016 Adin mendirikan RITUS - titik temu seniman street-art di Makassar. Adin Saat ini aktif berkegiatan di SIKU sebagai Koordinator Program Hiburan dan Jejaring Lokal. Sering mengisi line-up di beberapa gelaran musik sebagai DJ jika ada kolingan.

Rais


Menyelesaikan studinya sebagai IT Engineer dari Politeknik Telkom, Bandung, saat ini dia menjadi seniman multi-disiplin dan desainer visual. Merupakan pendiri Jendela Studio sejak 2013 yang berganti menjadi Bonfire Creative Complex pada 2018. Karirnya sebagai duo seniman audio-visual "BOMBO" bersama seniman suara Reza Enem pada 2015, membawanya diundang pada RA #6 oleh DAI di Arnhem, Belanda tahun 2016. Bersama BOMBO juga berpartisipasi dalam program Artist-in-Residency di FACT Liverpool, UK pada tahun 2017, dan Makassar-Yirrkala Artist Exchange, Yirrkala, Autralia Utara pada tahun 2018. Terlibat dalam sejumlah pameran seni internasional dan nasional seperti Lightnight Liverpool, UK, 2017; UK/ID Festival 2017, Jakarta; Improve The City 2019, Makassar; Humanity Youth, 2020; dan SA PU Kisah, 2021. Pada tahun 2018, mendirikan NARA Inkubator, sebuah labolatorium seni media baru. Saat ini, sedang mengelola SIKU sebagai Koordinator Program, Jejaring, dan Sumber Daya, serta Creative Director di BONFIRE.

Febry


Febrianty Hasanah Lulus dari Teknik Sipil di Universitas Hasanuddin, Febri memperoleh berbagai macam pengalaman dalam mengelola proyek di industri yang beragam. Ia juga aktif dalam kegiatan sukarela—salah satunya sebagai volunteer dalam refugee program di bawah supervisi UN-Migration (IOM) di Makassar sejak tahun 2018. Ia juga pernah menjadi program assistant dalam sebuah proyek bernama Makassar-Yirrkala Artist Exchange Program yang bekerjasama dengan Wilin Centre di Universitas Melbourne, Australia. Saat ini, ia fokus pada isu pengungsi perkotaan (urban refugee) dan terlibat dalam penelitian yang diadakan oleh RDI Urban Refugees Research Group (RDI UREF). Mengembangkan uint kerja Studi Kelab SIKU bersama teman-teman di SIKU

Diqal


Haediqal seorang penggiat film yang berfokus di bidang Produksi dan Penulisan Skenario. Lulus sebagai Sarjana Humaniora dari Universitas Padjadjaran dan mengikuti workshop penciptaan film Makassar in Cinema di tahun 2015. Film pertamanya berjudul Pencuri Mangga adalah hasil workshop tersebut, berperan sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Di tahun 2017, kembali menyutradarai film pendek berjudul Santa Maria, 1999. Sejak itu, terus terlibat di dalam ranah film Makassar, dengan terlibat pada beberapa serial web dan film pendek, baik sebagai produser lini, maupun penulis skenario. Saat ini mengais rejeki bersama BONFIRE CREATIVE COMPLEX sebagai Produser sambil mengemban tugas sebagai Koordinator Unit Bisnis dan Keberlanjutan di SIKU